Five Months

I was too busy–and too lazy–to update my blog, lately.

But hey, hello. How are you? Doing good?

It’s been five months since I decided to move to Jakarta, the busiest city in Indonesia. Or so they said. Working for an advertising agency and mind social media accounts makes me busy as a bee.

I was afraid of this city. Sort of hate it, I might say.

But you can never predict the future, right? I got an interesting offer from a very interesting company, a multinational one, decided to take it because it was too precious to leave it and now… here I am, in a city I used to hate. Hahahaha.

Four years ago, I would never imagine I could live here. The traffic jam, the weather, the five-years flood, the scary people I’ve watched on TV… who would ever want to live in a such messed-up place? But then I realize, the only way I can fulfill my dreams is to stay and work in Jakarta. What dreams? I’m not telling :P Then, in 2010, I started to write on a bright-colored post-it note, “Kerja di Jakarta.” I put it on an easily seen place, right after my desktop PC in my small room.

Seems like God granted my wish gradually. I met new people and started to build to network; most of them are living in Jakarta.  Some old men say, you could fulfill your own wish by meeting the right people. And that’s definitely correct since they gave me a lot of insights about Jakarta and helped me a lot in planning things if I live in Jakarta someday. Some plans aren’t going well, though. But still, I can survive within these five months. Hahaha.

So if somebody ever asked me, “How’s Jakarta?”

I’d answer, “Good. Not a very beautiful city with the traffic jam and the flood, of course; but you can still make a living here.”

I like this city, I like the traffic jam, I like the weather, I like the flood (since you can back from work earlier) and I like being busy. It’s just… I can’t avoid the feeling of being lonely in this crowded city.

But hey, who can? :)

Kuserahkan Putriku Padamu – A Note

Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.

Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.

Dan waktupun berlalu…

Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya di sini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.

Tapi…

Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.

Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun izinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau di atas kami.

Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti halnya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami di masa tua.

Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.

Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami di masa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.

Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.

Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.

Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.

Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.

I don’t know exactly who wrote this. But this note rips my heart and make me even more afraid of marriage and leave my parents.

A Small Gift and A Farewell

Langit Yogyakarta dihiasi mendung tebal menggelayut. Meski sepertinya hujan deras akan segera turun, kenyataannya tak ada satu titik air pun yang jatuh sejak pagi.

Cuaca semacam ini tidak pernah gagal membuat saya merasa ngelangut, apalagi saya seringkali sendirian di kamar. Bahasa kerennya anak Twitter sih, mendung bikin galau.

Continue reading

English, Please

Hello :D

I’ve got many emails asked, “Why don’t you write in English? I got updates from your blog in language I don’t understand.” I am very, very sorry for that, folks. This blog contains posts in Bahasa Indonesia since I rarely use English for my daily language. I write in English, sometimes, in certain conditions. Heheh…

Actually I have all-posts-written-in-English blog. Well… I didn’t post long articles on it; most of them are quotes or short notes. You could visit Sunshine & Rain if you want to see it.

Regards!

Twitter Keras? Iya Gitu?

Bullying? Twitter Keras? Otak lu aja kali yang belum cukup buat main Twitter.

Pernah gak, ngalamin digencet sana-sini dalam kondisi gak bisa ngelawan sama sekali, gak punya temen buat counter itu?
Pernah gak, ngalamin itu sampe sekian lama, terus akhirnya stres sendiri? Gak berani muncul? Pengen mati?
Kalau pernah, mungkin anda emang lagi di-bully.

Bukan, saya bukan mau ngomongin soal eks-skripsi saya. Itu masa lalu.

Bully. Kata ini kayaknya lagi in banget ya di Twitter? Kalimat-kalimat seperti “Aku di-bully :( ” sering banget muncul di timeline saya. Sebenernya tiap kali saya baca kalimat ini, saya kepengen banget nanya sama yang bersangkutan, “Sejauh mana topik itu mengaruhin kalian sampai, pengen mati, misalnya?”
Oke, mungkin pertanyaannya kedengeran ngeri banget karena nyangkut soal mati segala. Tapi ya itu… bullying is a serious thing, actually.

Continue reading

Personal Reminder

Today before you say an unkind word – Think of someone who can’t speak.

Before you complain about the taste of your food – Think of someone who has nothing to eat.

Before you complain about your husband or wife – Think of someone who’s crying out to God for a companion.

Today before you complain about life – Think of someone who went too early to heaven.

Before you complain about your children – Think of someone who desires children but they’re barren.

Before you argue about your dirty house someone didn’t clean or sweep – Think of the people who are living in the streets.

Before whining about the distance you drive – Think of someone who walks the same distance with their feet.

And when you are tired and complain about your job – Think of the unemployed, the disabled, and those who wish they had your job.

But before you think of pointing the finger or condemning another – Remember that not one of us is without sin and we all answer to one God

And when depressing thoughts seem to get you down – Put a smile on your face and thank God you’re alive and still around.

 

–Islam For Kids–