Hari ini saya dapet lagi satu kabar bahagia. Dua orang temen saya dari kampus tercinta, resmi jadi pasangan suami-istri! Yay!
Selamat yaaa Diko dan Salsaaaaa….. Semoga selalu dikaruniai keberkahan dariNya, jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah
Seneng rasanya tiap kali dengar ada teman yang resmi melepas masa lajang, menemukan dan ditemukan oleh pasangan hidup yang diinginkan, memulai perjalanan menempuh kehidupan bersama yang diimpikan berdua lama sebelumnya. *halah*
Bagi saya, setiap pernikahan itu selalu indah. Amazing. Bagaimana dua orang yang tadinya berbeda visi, mencoba menyatukan hal tersebut. Dan saya, selalu senang melihat prosesi pernikahan. Mulai dari proses siraman, malam midodareni (untuk suku Jawa) calon pengantin putri, pengucapan janji nikah, hingga berujung pada acara resepsi. Adorable. Melihat dua orang bersanding di pelaminan, yang meski capek, mereka tetap pasang wajah berseri-seri. It’s so wonderful…
Bagi saya, itu semua merupakan awal. Awal kehidupan baru yang lebih challenging, lebih berat, karena pernikahan bukan lagi tentang ‘aku’ atau ‘kamu’, tapi sudah betul-betul menjadi ‘kita’. Dua orang, beda kepala, beda pemikiran, mencoba menyatukan itu dan saling mengisi.
Ada kata-kata seorang teman yang pernah saya dengar dan sangat lekat di kepala saya sampai sekarang. Bahwa pernikahan adalah tentang kompromi, setiap hari, dengan orang yang sama. About how to deal with it, every single day, with the same person. Sesuatu yang kadang kita lupakan waktu bayangan indah pernikahan sudah menari-nari di depan mata. Definitely agree about it. Mengkompromikan segala hal, berlatih kesabaran dengan orang yang pasti bakal ketemu kita setiap hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Yaaah… kecuali kalo kehidupan pernikahannya long distance
Kau disanaaa aakuuu disiniiii…. Satu rasaa daalaam haatiiii…. *apadeh*
Menikah artinya siap menghadapi masalah-masalah baru. Masalah yang pasti bakal jauh lebih rumit, lebih membutuhkan kesabaran dan pemikiran ekstra hati-hati. Itu menurut saya… Tapi dasar mupeng, meski tau menikah itu bakal lebih ribet dibandingkan waktu hubungan sebelum pernikahan (baca: pacaran), saya tetep aja pengen nikah. Hauahuahahuahauhua…
Eh, gak ada salahnya tho? Toh, menurut agama saya, setiap manusia itu memang diciptakan berpasangan-pasangan, dan menikah adalah sunnah Rasulullah. Bukanlah pengikutnya jika tidak melaksanakan sunnah tersebut
Saya masih tetep pengen ngalamin prosesi siraman, midodareni, pengen ngerasain memohon restu orangtua untuk mengabdi sama suami saya… Pengen juga ngeliat papa menjabat tangan calon suami saya dalam proses ijab qabul, dengan mengucapkan, “Saya nikahkan engkau dengan anak saya…” *lemes*
Gimana soal biaya resepsi yang sering jadi pikiran pokok menjelang pernikahan? Hmm… menurut saya, yang terpenting adalah ridhaNya sudah lebih dulu didapat. Resepsi itu bisa menunggu, kok. Ini kata seseorang…
Well…
Bagaimanapun nanti prosesnya, bagaimanapun kehidupan yang dialami di kemudian hari… buat saya, pernikahan itu tetap indah…
Tell me about it
two and a half years of marriage and still, we are adjusting ourselves to each other.
But that’s d beauty of marriage
Setujuuu… Itu indahnya menikah…
Makasih udah mau mampiiir mba ekaaa… *ciyum* Hihi…
menikah itu menyenangkan, dengan segala pernak pernik dan pahit manisnya
Aaaa… Beneran makin kepengeeennn… Huhu
aku juga kepengeeeeeeennn..tapi..
ah kamu jadi memberiku ide buat nulis
*semedi*
Wahihi… Ayo nuliiiss… jangan kelamaan semedi
aku sepakat bahwa menikah itu adalah sebuah kompromi, yang mana hal itu akan kita lalui sepanjang hidup kita… Berat memang, maka tak heran jika Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang menikah itu berarti telah menggenapkan separuh dari agamanya… separuh agama bok…
aku sangat sepakat, bahwa menikah itu adalah awalan, bukan akhiran. Sungguh sangat mengkhawatirkan jika seseorang menganggap menikah itu sebagai tujuan akhir, karena dia merasa telah sampai pada titik di mana dia akan bahagia selama-lamanya… tidak… bukan seperti itu.. karena bahagian dan cinta tidak bisa muncul dengan sendirinya… ia perlu diusahakan dengan kesungguhan… kesungguhan untuk tetap dalam satu bahtera dan satu tujuan…
belum lagi ketika si buah hati hadir… bagi beberapa orang, kehadirannya di rasa mengganggu, tapi banyak juga yang merasa makin lengkap kehidupannya karena kehadiran si kecil akan semakin memupuk subur rasa canta dan bahagia itu…
yuk… siapkan hati… untuk mengusahakan cinta dan bahagia