Iya, tahun ini saya genap berusia 25 tahun. Yaaaay! *tepuk tangan*

Usia yang menurut sebagian besar orang, merupakan usia di mana seseorang bisa dibilang resmi memulai kehidupan dewasanya.
Usia yang menurut para orang tua, merupakan usia sempurna bagi seorang perempuan untuk melepas masa lajang.
Usia yang menurut sebagian besar orang, merupakan usia dimulainya kemandirian.
Usia yang menurut saya sendiri, semacam checkpoint.
Everyone should be happy having birthday. Another joyful moment in your life when family and friends gather around, cheering and wishing you a happy birthday, also another good wishes. Who shouldn’t?
Unfortunately, though I’m having birthday, I’m not that happy. Tahun ini, saya malah nggak ngerasa happy sama sekali
Tengah malam, saat pergantian hari, saya saling berkirim ucapan selamat ulang tahun sama si uni sambil berkaca-kaca. Uni yang meski baru beberapa kali ketemu, tapi udah bikin saya ngerasa deket dan sayang banget sama dia. Gak tau kenapa, mungkin karena tanggal ultahnya barengan? Hahaha.
Pagi-pagi sekali saya ditelpon mama, dikasih ucapan, rasanya malah pengen nangis. Seneng, sekaligus sedih. Sedih karena di usia yang seharusnya saya udah mulai menjalani kehidupan dewasa, lulus, kerja, dan/atau merencanakan pernikahan dalam waktu dekat, saya masih stuck di perguruan tinggi. Belum lulus, belum kerja, dan belum merencanakan pernikahan sama sekali. Macem useless ya? Fufufu… Mana pak dosen pembimbing masih belum jelas kabarnya gimana; walhasil bimbingan mandeg, sidang pun tertunda. Feels like arriving at the checkpoint, carrying nothing.
Hal yang cukup menghibur pastinya ya ucapan dari teman-teman, nyanyian ‘Selamat Ulang Tahun’ dari si ayuk dan mas cantik di karaoke, dan pacar yang datang dari Jakarta khusus buat saya (atau buat iga bakar Jl. Damai yang bikin dia jatuh cinta itu. Entahlah.)
Nothing special with my birthday, actually; kecuali mungkin kemenangan Jokowi-Ahok yang pas banget bertepatan dengan tanggal ultah saya
So, yeah… ultah tahun ini saya rayakan dengan pergi sendirian ke Solo pagi-pagi, had a facial treatment di klinik kecantikan, balik lagi ke Jogja, karaokean, kemudian menghabiskan akhir pekan berdua pacar.
He did a lot to keep my tears away, sambil gak lupa terus menyemangati bahwa meski saya mencapai checkpoint tanpa membawa apapun, checkpoint ini kesempatan bagi saya untuk menciptakan ‘apapun’ itu. Omongan yang membuat saya yakin bahwa saya masih punya harapan, masih ada kesempatan untuk saya di masa depan. Omongan yang kadang bikin saya lupa, yang lebih tua sebenernya siapa. Hehehe.
Terus, ngapain aja kami selama akhir pekan kemarin?
Menghabiskan iga bakar bumbu bali yang enak sekali itu.
Menyerbu sepanci suki dengan lima macam isian dan kekenyangan.
Then… just like an old couple, we ate ice cream while watching tv at home.
Sound so romantic? Not at all. We’re weird couple after all
hmmm.. pacarmu ganteng ya pasti (–,)
Gak ganteng sih, cuma ya lumayan lah ada berewoknya