Bullying? Twitter Keras? Otak lu aja kali yang belum cukup buat main Twitter.
Pernah gak, ngalamin digencet sana-sini dalam kondisi gak bisa ngelawan sama sekali, gak punya temen buat counter itu?
Pernah gak, ngalamin itu sampe sekian lama, terus akhirnya stres sendiri? Gak berani muncul? Pengen mati?
Kalau pernah, mungkin anda emang lagi di-bully.
Bukan, saya bukan mau ngomongin soal eks-skripsi saya. Itu masa lalu.
Bully. Kata ini kayaknya lagi in banget ya di Twitter? Kalimat-kalimat seperti “Aku di-bully
” sering banget muncul di timeline saya. Sebenernya tiap kali saya baca kalimat ini, saya kepengen banget nanya sama yang bersangkutan, “Sejauh mana topik itu mengaruhin kalian sampai, pengen mati, misalnya?”
Oke, mungkin pertanyaannya kedengeran ngeri banget karena nyangkut soal mati segala. Tapi ya itu… bullying is a serious thing, actually.
Pernah ada kasus seorang anak gak berani masuk sekolah sampai beberapa lama, dan akhirnya dia memilih mati karena gak sanggup nahan gencetan yang dia terima dari teman-temannya di sekolah. Sedih, because she’s just a junior high school student. Harusnya, dia bisa hidup lebih lama lagi dan bukannya mengakhiri hidup di tangannya sendiri. Well… Not all of the victims choose to end their life by themselves. But still, there’s after effect. Bisa jadi dia menarik diri, bisa juga dia depresi kronis dan trauma.
Bullying di Twitter, efeknya bisa sampai segitunya?
Well… Bisa ya, bisa tidak. Tergantung gimana si korban bisa menahan dan ‘menyerang’ balik. Emang bullying apaan? Definisi ilmiahnya sendiri adalah agresi berulang dimana satu orang atau lebih bermaksud melukai atau mengganggu orang lain secara fisik, verbal, atau psikologis. Biasanya ini terjadi saat individu atau suatu kelompok menyalahgunakan kekuasaan terbesar mereka melalui ancaman dan menindas satu sasaran secara individual. Kalau menurut pengetahuan gak seberapa saya, memang gak semua kondisi di mana kita sering dipojokin dan jadi bulan-bulanan di Twitter bisa disebut sebagai tindakan bullying. Mengarah ke situ, mungkin. Karena untuk bisa address suatu tindakan sebagai bullying itu ada syaratnya.
Secara tradisional sih, bullying bisa dibilang terjadi saat seseorang jadi sasaran perilaku apapun yang:
- Berbahaya atau dilakukan dengan maksud untuk menyakiti
Dipukulin? Dihina terus-terusan dengan satu topik sampai sakit hati? Itu bisa dibilang udah mengarah ke bullying sih…
- Dengan sengaja diulangi atau terjadi terus-menerus
Dipoyoki (istilah Jawa) soal kejombloanmu selama sehari penuh, abis itu udah? Nggak, kamu bukan lagi di-bully; kamu cuma lagi diolok-olok, karena besoknya dan besoknya lagi hal itu gak berlanjut.
- Dikarakteristikkan melalui sebuah ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan, seperti halnya korban merasa dia tidak dapat menghentikan interaksi tersebut
Di sini, pihak yang di-bully (korban) kekuatannya jauh di bawah orang yang mem-bully (pelaku). Seringnya, pelaku ini melakukannya secara berkelompok; tujuannya ya supaya lebih kuat, efek gencetannya lebih terasa. Korban seringnya seorang diri, gak punya back up, dan dia gak tau salahnya apa. Seolah-olah keberadaannya sendiri itu sudah suatu kesalahan. Sedih gak sih, kalo kamu hidup aja udah dianggap kesalahan di mata orang lain? And sadly, bully often pick their victim randomly. Gak ada alasan khusus, seperti dendam akibat kesalahan masa lalu si korban. Kadang hal sepele seperti ‘kamu jelek’ aja bisa jadi sebab kenapa seseorang di-bully habis-habisan. Karang yo menungso ki pancen dhewe-dhewe je, gak semuanya berasal dari cetakan yang sama. Hasil akhirnya jelas bakal beda toh?
Dan yang paling penting, ada after effect pada si korban. Entah dia menarik diri, depresi, atau bunuh diri.
Ada bullying fisik, ada bullying verbal. Ada lagi electronic/cyber bullying. Namanya memang ada electronic-nya sih, tapi bukan berarti korban disetrum sama pelakunya. Electronic/cyber bullying ini medianya mulai dari fasilitas yang disediakan handphone (sms), email, sampai social network. Iya, dunia serba 2.0 sekarang bikin electronic/cyber bullying lebih memungkinkan. Gak suka sama satu orang? Serang aja rame-rame, RT buat manggil follower-mu, lakukan selama seminggu penuh atau sampai batas waktu yang tidak ditentukan dan korbanmu gembok/tutup akun. Iya gak?
Sad, but sometimes it called fun by some people.
Sering banget kita jadiin seseorang sasaran celaan di Twitter cuma karena dia punya satu hal yang bikin dia layak ditertawakan. Twitter isn’t always fun. Twitter gak melulu buat lucu-lucuan. Selera humor setiap orang bisa berbeda, kaya selera makan. Apa yang bisa kamu terima sebagai sesuatu yang lucu, bisa jadi sama sekali gak lucu menurut orang lain. Gak ada hubungannya sama sekali dengan udah cukup atau belum otakmu buat main Twitter. Kalau ada yang bilang, Twitter keras, emang iya; Twitter mah sekarang keras. Salah dikit aja, bisa bikin kita diserang sana-sini. Bisa mengarah ke electronic/cyber bullying malah, kalau udah menuhin syarat-syarat di atas tadi.
Tapi ya… gak semua bulan-bulanan di Twitter bisa langsung disebut bullying. Bullying isn’t that simple; there are few requirements to call such action as bullying, dear friends. Dihina-hina di media sosial dan masih sanggup melawan? Masih kuat meladeni hinaan dengan menghina balik? Itu bukan bullying, teman, karena kamu masih bisa melawan. Bukan di-bully kalau kamu masih bisa menangkisnya dan kamu tidak sampai depresi atau ingin mati karenanya. Jadi kalau bisa… ya kalau bisa… jangan dikit-dikit bilang ‘aku di-bully’ ya. Because bullying is a serious thing
Wah, ternyata norah pinter bahasa inggris, jadi minder saya.
Trims postingnya, mencerahkan
Ah si Om bisa aja.. *tersipu* Sama-sama om
selama ini sering sih diserang sama orang di twitter, tapi alhamdulillah belum pernah menuliskan ‘aku dibully’, soalnya kadang hanya ngerasa kesel sih sama orang yang nyerang.
Tapi memang kita nggak bisa menyamaratakan orang lain. seperti gelas, ada yang terbuat dari kaca dna mudah pecah, ada pula yang terbuat dari plastik yang bisa meleleh dibakar api.
Bisa jadi kita pikir. apa yang seseorang alami tak seberapa, tapi bisa jadi itu berbeda dengan yang dirasa.
Nah, balik lagi dengan istilah ‘bully’ yang suka muncul di TL, bisa jadi mereka tak memahami esensi dari bullying itu sendiri.
That’s why I wrote this and stated “Jadi kalau bisa… ya kalau bisa… jangan dikit-dikit bilang ‘aku di-bully’ ya.”
*baca.
langsung pasang tameng.
aku ga pernah mem-bully kok
*aku gak pernah merasa berhak.
Bhahahahak. Aku refleks ngakak pas baca kalimat “langsung pasang tameng”. Sumfe!
I was not expecting bahasa indonesia when I clicked on the “about me” link. Weird.
Well… ‘Though I use English for my ‘about me’ link, actually I blog in Bahasa Indonesia. If there’s any post(s) in English, it’s just because I’m in the mood to write in English. What’s weird about that?
Perhaps if the link was `Tentang Saya`, no one will expect it in English.
Anyway, kulo tiyang jawi. nuwuuun.
mbak, saya baru membully orang di fesbuk. kira2 saya masih bisa masuk surga ndak ya?
Tentang nantinya bisa masuk surga atau tidak, biarlah itu jadi kuasa Sang Pemilik Hidup, mas.
Saya bukan penentu seseorang bisa masuk surga/tidak :’)